NGEMPER (NGobrol Mengenai PEndidikan dan Riset)

P 20180507 145818 1 p1(07/05/2018) NGEMPER 01-Water Stress in urbanised basins. Divisi Hidrometeorologi menyelenggarakan diskusi dan obrolan santai tentang penelitian yang dikenal dengan NGEMPER (NGobrol Mengenai PEndidikan dan Riset). Pada kesempatan pertama, alumni Hidromet yaitu Fauziah Nur (Angkatan 46) memaparkan hasil risetnya yang berjudul ‘Past and Future Water Stress and Nutrient Pollution in Urbanising River Basins of Southeast Asia’. Kegiatan diskusi santai ini diikuti mahasiswa tingkat akhir dan staf dosen GFM.Alumnus IPB tahun 2013 ini melanjutkan studi Master di Wageningen University denganspesialisasi pada bidang Environmental Sciences. Gelar MSc (chair group: Water System andGlobal Change) digenggam setelah manjalani pendidikan selama 2 tahun di Wageningen.Selama studi di Belanda, Zia sempat tinggal di beberapa negara Uni Eropa untuk ‘field trip’dan ‘leisure’ termasuk tugas ‘internship’ di Bordeaux, Prancis selama 4 bulan.

Resume presentasi pada hari Senin, 7 Mei 2018 sebagai berikut:
Laju urbanisasi yang tinggi diprediksi akan terjadi di Asia Tenggara dalam beberapa dek ade mendatang. Peningkatan aktivitas urbanisasi berimplikasi pada peningkatan pada aktivitaspertanian yang intensif dan peningkatan aksesibilitas rumah tangga ke sistem pembuangan(sewage system). Hal tersebut menyebabkan penurunan kualitas air sungai karena pengingkat an kadar nitrogen (N) dan fosfor (P). Disini, kami memodelkan DIP (dissolvedinorganic phosphorus) dan DIN (dissolved inorganic nitrogen) yang terbawa oleh sungaidengan model Global News-2 (Global Nutrient Export from Watersheds). Temuan kamimenyebutkan bahwa terjadi peningkatan tajam sebesar tiga dan lima kali lipat untuk DIP danDIN pada periode 1970 (acuan) dan 2000. Prediksi kami menyebutkan peningkatan nitrogendan fosforus pada aliran sungai akan terus terjadi dengan penambahan hingga 4-6 kali (dari tahun 2000) pada tahun 2050. Penurunan kualitas air akan berdampak pada penurunan ketersediaan air bersih di daerah kajian. Pada tahun 2050 dengan skenario Global Orchestration (salah satu skenario dalam Millenium Ecosystem Assessment – MEA),diperkirakan hanya sekitar 40% dari total air sungai yang layak digunakan untuk kebutuhan manusia, paling tidak untuk irigasi. Hal ini menunjukkan peningkatan stress pada daerah aliran sungai (DAS) di wilayah Asia Tenggara. Dalam penelitian ini, indikator stress air yang dialami oleh daerah aliran sungai (water stress indicator – WSI) didefinisikan sebagai rasio antara air yang dibutuhkan (oleh masyarakat dan lingkungan) dan air bersih yang tersedia,dalam kaitannya dengan pencemaran N dan P. Dari tahun 2000 hingga 2050, diperkirakanbahwa untuk DAS terurbanisasi (DAS dengan jumlah populasi urban ≥ 75%) di daerahkajian, wilayah dengan stress air yang tinggi (WSI > 0.4) akan meningkat dari 50% hingga 70% dari total area DAS.