Penyakit di Puncak Kemarau

phpskh bo resized

(19/07/2019) Indonesia segera memasuki puncak musim kemarau pada bulan Agustus sebagaimana dilansir Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Kondisi ini berbarengan dengan El Niño yang berpotensi menimbulkan ke¬keringan ekstrem di Indonesia. Perubahan iklim meningkatkan wabah penyakit sensitif iklim seperti malaria, demam berdarah dengue (DBD) hingga meningitis.

Kabupaten Sleman terjangkiti wabah DBD mencapai 551 kasus hingga Juni. Balikpapan juga dilaporkan merebak DBD di musim kemarau ini dengan jumlah korban meninggal delapan orang. Kabupaten Purwakarta meningkatkan peyuluhan akan bahaya DBD memasuki musim kemarau ini. Sementara itu, daerah yang berpotensi terjangkiti meningitis terdeteksi di wilayah timur Nusa Tenggara, bagian utara Sumatera, utara Jawa dan Sulawesi.

Informasi iklim sebagai basis pengembangan peringatan dini dapat lebih berperan jika data dan analisis dapat digunakan secara efektif untuk memperbaiki kemampuan mempromosikan, mencegah, atau meningkatkan kesehatan masyarakat. Ini untuk mendeteksi, mengobati, memonitor, dan memprediksi epidemi.

Dengan mengetahui pola iklim diharapkan dapat mem¬bantu mengenali prevalensi penyakit epidemik yang diyakini meningkat selama musim kemarau atau hujan. Namun demikian, yang penting disa¬dari, penyakit tertentu dapat menunjukkan pola musiman yang berbeda di zona ekologi berbeda.

Perubahan akibat alih fungsi lahan menjadi pendorong penting penularan di beberapa daerah. Contoh deforestasi di kawasan hutan meningkatkan kelimpahan vektor anoples yang dapat berkembang dengan baik di bawah sinar matahari daripada dalam kawasan hutan.

Pengembangan kalender penyakit yang menggambarkan bulan-bulan berisiko tinggi dapat membantu sistem kesehatan nasional dalam menentukan waktu tenaga medis, obat-obatan serta finansial harus didistribusikan dan dialokasikan. Kemudian hal itu akan membantu petugas kesehatan mendeteksi dan mengobati penyakit dengan tepat.

Salah satu pengembangan sistem peringatan dini baik secara spasial maupun temporal dengan memanfaatkan layanan Maproom Iri. Portal ini menyediakan informasi untuk mengetahui hubungan iklim dengan kesehatan. Namun, informasi yang disediakan terpusat pada hubungan iklim dan penyakit malaria di Afrika. Akan tetapi, ini tidak masalah. Informasi tersebut dapat digunakan untuk merancang hubungan iklim dengan epidemik Indonesia.

Contoh untuk membangun sistem peringatan dini malaria, data yang dibutuhkan antara lain prediksi suhu dan hujan musiman. Kemudian, hujan 10-harian (dasarian), selisih hujan 10-harian, persentase estimasi hujan 10-harian, dan suhu udara maksimum pada ketinggian 2 meter. Lalu, suhu permukaan tanah minimum (atau suhu udara minimum), dan indeks vegetasi.
Untuk prediksi suhu dan hujan musiman dapat diakses melalui portal Maproom Iri tadi. Hujan dasarian dapat juga diperoleh darinya. Namun lebih cocok menggunakan pendekatan simulasi iklim karena dibutuhkan pengamatan hujan dengan skala waktu pendek (1 hingga 2 pekan) dalam mem¬bantu menentukan lokasi dan waktu mewabahnya penyakit malaria.

Estimasi hujan 10-harian menghitung selisih rata-rata jangka pendek (dari tahun 2000 hingga tahun terakhir). Ini yang membedakan dengan perubahan hujan konvensional yang menghitung rata-rata jangka panjang (30-tahunan). Perbandingan tersebut mem¬beri wawasan tentang perubahan risiko malaria yang relatif terhadap perspektif historis terbaru.

Alternatifnya, estimasi hujan dapat juga dinyatakan dengan selisih rata-rata jangka pendek yang selanjutnya disebut dengan persentase estimasi hujan. Suhu udara maksimum dan minimum (untuk prediksi) dapat juga dihasilkan melalui simulasi. Suhu udara maksimum adalah faktor lingkungan yang mendukung berkembangnya nyamuk serta indikator berkembangnya parasit plasmodium pada vektor nyamuk.

Kisaran suhu udara rata-rata 18-32 derajat Celcius diperlukan untuk per¬kembangan vektor dan potensi penularan malaria. Suhu udara minimum 18 derajat Celcius atau lebih besar di¬perlukan untuk potensi penularan malaria plasmodi¬um falciparum. Sementara itu, suhu minimum 16 derajat Cel¬cius dan di atasnya dianggap berpotensi untuk penularan plasmodium vivax.

Penyakit lain yang berpotensi mewabah di Indonesia terkait pemanasan global yang akan signifikan terjadi adalah meningitis. Studi telah menunjukkan, cuaca kering, kelembaban yang rendah berperan penting dalam merebaknya penyakit ini. Laporan “Intergovernmental Panel on Climate Change” menyebutkan, wilayah tropis bagian selatan (Indonesia bagian selatan) akan berpotensi lebih kering dibanding wilayah utara.

Hal ini tentu ancaman untuk wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi Selatan hingga Papua bagian selatan. Untuk mengantisipasi, ke depan perlu pemantauan tumbuh kembangnya penyakit ini dengan memonitor: hujan, kelembaban, suhu dan angin. Unsur cuaca berperan penting sebagai prediktor mewabahnya meningitis.

Kelembaban diukur sebagai indikator kekeringan. Secara historis, epidemi secara lingkungan dapat diredam ketika ambang batas kelembaban 40 persen terpenuhi. Wabah men¬ingitis mencapai puncaknya selama periode musim kemarau. Angin kering dengan kecepatan tinggi terutama di wilayah bayangan hujan berpotensi terjangkiti meningitis seperti pantai timur Sumatera dan pantai utara Jawa.

Peringatan Dini
Profil curah hujan digunakan untuk memprediksi risiko geografis meningitis di mana terdapat bukti bahwa epidemi tahunan akan menghilang de¬ngan awal masuknya musim hujan. Peringatan dini lainnya melalui teknik stokastik/statistik yang dikembangkan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Sistem ini sangat sederhana karena hanya berbasis informasi iklim dasar seperti: suhu udara rata-rata, suhu udara minimum, suhu udara maksimum dan curah hujan. Ini ampuh dalam memprediksi angka kejadian DBD serta waktu fogging yang tepat. Namun ketersediaan data iklim untuk mendukung sistem peringatan dini tersebut masih sulit diperoleh.

Luaran prediksi cuaca yang dikeluarkan BMKG dapat digunakan untuk mengisi kekosongan data di daerah tertentu. Informasi iklim didukung ketersediaan data kesehatan terkait epidemi yang mewabah akan menjadi sumber informasi utama dalam pengembangan peringatan dini epidemi menuju Indonesia sehat. Hal ini sekaligus sebagai upaya mereduksi bencana iklim di bidang kesehatan.
Penulis Mahasiswa Doktoral di Klimatologi Terapan IPB

sumber link:http://www.koran-jakarta.com/penyakit-di-puncak-kemarau/